Spot ID ( Prime News ) - Pakar politik internasional, Dewi Fortuna Anwar, mengkhawatirkan kebijakan Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, yang
disampaikan saat kampanyenya, bisa pengaruhi
Indonesia.

"Karena itu kita tunggu dan lihat saja dulu
perkembangannya seperti apa, sambil
menyesuaikan kebijakan agar terjadi hubungan
yang saling menguntungkan," kata Anwar, yang
juga peneliti di LIPI itu, di Jakarta, Rabu.

Trump terkenal memiliki komentar kontroversial saat kampanye. Dia kondang dengan janji mendeportasi imigran, membangun tembok perbatasan antara
Amerika Serikat dan Meksiko, mencegah kaum muslim masuk wilayah Amerika Serikat dan mengancam akan "meninggalkan sekutu- sekutunya". Walau ini hal dan kedaulatan Amerika Serikat, kata dia, berbagai pernyataan itu tentu membuat cemas komunitas global.

Trump

"Kita semua tentu berharap Amerika Serikat di
bawah pemerintahan Trump, tidak seperti
yang dikampanyekan dia. Kerja sama bilateral,
regional, dan global tetap terpelihara secara
baik dalam berbagai bidang," ucap Anwar, yang
juga tercatat sebagai anggota Dewan

Penasehat PBB Tentang Perlucutan Senjata itu. Sementara itu, Presiden Joko Widodo menegaskan hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat akan tetap baik, terkait siapapun yang menjadi pilihan rakyat Amerika Serikat sebagai presidennya.

"Apapun yang menjadi pilihan rakyat Amerika,
saya kira kita sangat menghargai," kata Jokowi,
usai penganugerahan gelar pahlawan nasional,
di Istana Negara, Jakarta, Rabu.

Jokowi juga yakin, pemimpin baru Amerika Serikat kelak tidak akan mengubah hubungan baik yang telah terjalin antara Indonesia dengan Amerika Serikat selama ini.

"Hubungan kita tetap akan baik, terutama
hubungan dagang dan investasi. Kita tahu
Amerika termasuk investor lima besar di
Indonesia. Saya kira tidak akan ada
perubahan," ujarnya.

Trump, pengusaha asal New York. secara mengejutkan mengalahkan rivalnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, dalam Pemilu 2016 Amerika Serikat, Selasa waktu setempat (8/11), dengan meraih setidaknya 276 suara elektoral. Kemenangan ini mematahkan prediksi
menjelang hari pelaksanaan Pemilu 2016 Amerika Serikat. Semula, banyak proyeksi jajak pendapat yang menunjukkan kemenangan bagi Clinton, yang antara lain
dikeluarkan New York Times, dengan prediksi 92 persen suara untuk Clinton. Juga FiveThirtyEight (87 persen), dan PredictWise (90 persen).

Sementara itu dalam Pemilu untuk DPR, Partai Republik berhasil mempertahankan dominasi dengan merebut setidaknya 224 dari 435 kursi. Perolehan ini sekaligus menyanggah sejumlah prediksi mereka akan banyak
kehilangan suara. (Spot ID)